Senin, 29 Oktober 2012

Sepeda Untuk Shania

Aku berjalan menuju sekolahku. Pagi itu masih segar udaranya. Beberapa teman melewatiku
dengan sepedanya. Aku percepat langkahku. Setelah melewati sebuah supermarket berlabel
Tujuh11, aku bertemu dengan seorang wanita memakai seragam yang sama dengan sekolahku.
Rambutnya panjang, wajahnya manis

“Shania.” Sapaku pada wanita itu.
“Hei...” Balas Shania.
“Shan, udah ngerjain PR matematika?” Tanyaku.
“Baru selesai 13 nomer, abisnya susah.”
“Iya sih, MATEMATIKA, Makin Tekun Makin Tidak Karuan ya, Shan.”
“Hahaha lucu banget sih kamu.” Ucap Shania.
“Emanganya Badut, lucu.” Balasku.

Aku dan Shania berjalan bersama. Kini aku dan Shania memasuki gerbang sekolah. Aku
menghampiri teman-temanku dikantin dan Shania menghampiri temannya di lorong sekolah. Bel
sekolah berbunyi. Aku segera kekelasku yang dilantai dua.
Mentari sinari ruang kelas, hawa tepat tuk terbuai lamunan. Melihat Shania yang duduk di
depanku, membuat rasa ingin memanggil namanya. Ibu guru menyebut absen murid kelas.

“Shania Junianatha?” Panggil ibu Guru. Aku dan Shania mengangkat tangan bersamaan.
“Aa.. A, a, azzeeekkk. Yang dipanggil satu, yang nyaut, duaaaa.” Ledek Ochi.
“Sudah, sudah.” Bu Guru menenangkan.
“Eh, Shan, maaf yah.” Ucapku.
“Iyaa, gapapa kok.” Balas Shania sambil tersenyum.

Pelajaran dimulai, Shania masih sesekali menoleh kebelakang dan senyum padaku. Dan Ochi
pun juga meledek.

Bel istirahan berbunyi. Aku keluar dari mejaku, begitu juga Shania. Saat aku berjalan, aku
sempat menabrak ia yang didepanku. Ia membalikkan badannya dan tersenyum. Ah, kenapa harus
tersenyum padaku? Membuat aku ingin mimisan saja melihat senyumnya yang manis.
Kantin siang itu cukup ramai. Aku duduk bersama teman-temanku didekat tembok. Shania
duduk dengan Ochi di tengah. Dari tempat dudukku, masih bisa terdengar suara Ochi dan Shania.

“Ochi makan Mie, Shania makan ayam, jadi Mie-Ayam.” Ucap Ochi.
“Terus, Chi?” Tanya Shania
“Jadi kita samaan. Toss!” Ochi menepuk tangan Shania.
“Dasar singit, Ochi.. Ochi..” Ucap Shania.
“Emang layangan koang, singit.” Balas Ochi.

Saat Shania sedang mengambil kecap, Ochi mencolek Shania.
“Shan, mau liat orang gila gak?” Tanya Ochi.
“Siapa?”
“Tuh.” Ochi menunjuk kearahku.

Shania melambaikan tangan ke arahku. Senang bukan main pastinya diriku. Shania
melanjutkan senyumnya, ia kemudian menunjuk tangannya ke arah gelasku. Ah, pantas saja Ochi
bilang aku orang gila, ternyata aku memasukkan saos ke gelas es jerukku. Shania dan Ochi masih
mentertawaiku.

Setelah jam pelajaran terakhir, aku dan murid-murid sekolah berkerumunan keluar sekolah.
Saat aku sedang berjalan, dari belakang, temanku menepuk pundakku.

“Sepedanya udah ada tuh.” Ucap temanku.
“Mana?” Tanyaku.
“Dibelakang sekolah, kok tumben sih pengen naik sepeda?”
“Gapapa, biar ada kenangannya aja.”

Aku dan temanku ke halaman sekolah untuk mengambil sepedanya. Aku cek rantai dan rem
sepeda itu. Setelah kuperiksa aman, aku bawa sepeda itu.
Ku kayuh sepeda itu. Rasanya cukup nyaman. Di ujung jalan kulihat ada Shania.

“Shan..” Panggilku.
“Eh, itu sepeda siapa?”
“Bareng yuk, mau gak?”
“Hem , tapi...”
“Tapi kan Shania kalo jalan kaki capek, yuk.” Ajakku.

Shania duduk dibelakang dengan posisi miring. Ia memangku tasnya. Aku terus mengayuh
sepedaku.
Sampai sudah dirumah Shania.

“Makasih yah.” Ucap Shania sambil tersenyum.
“Iya sama-sama, eh, Shan.”
“Ya?”
“Kalo besok pagi, bareng lagi kesekolah, terus pulangnya temenin ke toko buku mau gak?
Tanyaku.
“Hem... Mau sih. Besok pagi ketemu dimana?”
“Didepan rumahmu, gimana?”
“Oke, sampai besok yah.”

Aku hanya membalas senyum manis Shania dan pergi dari rumahnya. Shania masuk ke dalam
pagar dan melambaikan tangannya padaku.

*

Pagi itu masih terasa sejuk. Aku sudah tiba didepan rumah Shania. Ia sudah berdiri sambil
memakai cardigans berwarna biru. Ia tersenyum dan langsung duduk di bagian belakang sepeda.
Perjalanan sepeda pagi cukup menarik, mulai membahas PR Bahasa Indonesia.

“Shan, udah ngerjain PR bikin cerpen?” Tanyaku.
“Udah dong, judulnya Sepeda Untuk Berdua, kamu?” Tanya Shania.
“Udah, judulnya Hari Pertama.” Jawabku.
“Hihihi.” Shania tertawa lucu.
“Kok ketawa?”
“Iya, kalo cerpen kita berdua digabung, Hari Pertama Sepeda Untuk Berdua, itukan kemarin.”

Aku merasa sangat senang saat Shania bicara seperti itu. Semua terasa sangat indah, seolah
dunia hanya milik berdua, sampai akhirnya....

“Azzeeekkk... Sepedaan berdua.” Ochi datang dari belakang naik ojek motor.
“Duh, Ochi.” Ucapku pelan.
“Apa lu? Duh aduh, emangnya Ochi kenapa?” Tanya Ochi.
“Kayak yang malem Jumat, masa tiba-tiba nongol.” Jawab Shania.
“Ciee, Ochi naik ojek motor, kalo Shania naik ojek cinta, dadaaahh.” Balas Ochi.

Ochi dan ojeknya langsung melaju cepat setelah meledek aku dan Shania.
Kini gerbang sekolah telah terlihat, Shania turun dari sepeda dan masuk duluan. Aku menaru
sepdeda dan merantai dan gembok dekat pagar halaman sekolah.

*

Pulang sekolah ditandai dengan bel. Shania menungguku di depan sekolah. Aku mengeluarkan
sepda dan kami naiki sepeda itu berdua.
Aku dan Shania menuju toko buku dekat komplek rumah kami.
Sesampainya, aku langsung menuju rak buku mancanegara, dan mengambil buku berjudul
Australia. Setelah kubaca beberapa halaman, aku kembali menghampiri Shania.

“Beli buku nggak, Shan?” Tanyaku.
“Enggak, liat majalah aja, kamu?”
“Tadi Cuma mau baca buku doang bentar, eh makan yuk.”
“Dimana?”
“Udah ntar pasti suka.”

Di sebrang toko buku itu ada sebuah cafe kecil. Di cafe itu tertuliskan “Warung Pemadam
Kelaparan”. Aku dan Shania duduk di depan dekat jalanan. Angin sore mulai terasa.

“Mau makan apa, Shan?” Tanyaku
“Hem disini yang spesial apa?”
“Kalo yang spesial disini, tumis kaktus, kucing saus tiram, tapi kalo yang spesial dihatiku ya kamu.”
“Gombal.” Balas Shania sambil tertawa.
“Gombal mah yang dipinggir jalan.” Balasku.

*

Sore mulai menyapa, aku dan Shania masih bersepeda. Saat bersepeda menuju jalan pulang,
ada sebuah turunan yang curam di depanku.

“Shan, berani gak?” Tanyaku.
“Turunan doang? Berani lah.”
“Tapi gak pake rem.”
“Terus berentinya gimana?”
“Detak jantung kita yang berentiin.”
“Mati iyadeh.”
“Berani gak, Shan?”
“Siapa takut.” Balas Shania sambil memelukku.

Aku hanya mendorong sedikit sepedaku dan sepeda melaju kencang, kurasa angin
menghembus kemejaku. Pelukan Shania dari belakang makin erat. Aku merasakannya. Kami berdua
berteriak.
Saat sampai diujung turunan, aku menekan rem. Aku dan Shania masih mengatur nafas karena
sepeda kami terlalu kencang tadi. Shania turun dari belakang sepeda dan berdiri di sebelahku.

“Hah, gila, tegang banget yah.” Ucap Shania.
“Iya, Shan.” Balasku.
“Itu hidungnya kenapa?”
“Ha?” Aku memegang hidungku dan ada cairan berwarna merah.
“Ih, kok mimsan, nih tissue.” Shania memberikan tissue padaku.
“Yah, mimisan deh.” Jawabku sambil mengelap darah dihidung.
“Iya, kok bisa deh?”
“Abisnya, tadi Shania meluknya kenceng banget.”
“Terus?”
“Terus, akunya seneng banget.”
“Ih... Bodoh deh.” Balas Shania sambil mencubiti aku.

Kami berdua jalan bersama sambil menenteng sepeda dan bergandengan tangan sore itu.

*

Suasana kelas kosong pagi itu cukup ramai. Aku di depan pintu kelas bersama teman-temanku,
Ochi yang sedang duduk sendiri dikursinya, dihampiri Shania.

“Ochi, mau curhat dong.” Minta Shania.
“Azeeekk, pasti curhatin pria ojek cinta itu kan?”
“Apaan sih, eh tapi ya, kemarin tuh seru banget gue sama dia, makan bareng, pulang bareng.”
“Cie Shania jatuh cinta.” Ledek Ochi.
“Ah, mungkin bagi dirinya hanya teman sekelas saja, yang jalan pulangnya searah.” Lanjut Shania.
“Keberadaannya seperti angin ya? Kayak numpang lewat gitu?”
“Iya, Chi. Kadang selalu bercanda, padahal kita selalu saling bicara.” Lanjut Shania.
“Kenapa gak ngomong aja?” Tawar Ochi.
“Ngomong apa?”
“Ngomong ke dia, tentang perasaannya Shania, daripada nyesel.” Tantang Ochi ke Shania.
“Gak tau deh, Chi. Bingung.” Jawab Shania.

*

Aku menenteng sepedaku, Shania berjalan di sebelahku. Pagar rumah Shania terlihat. Aku
berdiri di depan rumahnya.

“Shan, boleh minta tolong gak?”
“Apa?”
“Sepeda ini besok kamu yang bawa yah kesekolah.”
“Lho, kenapa?”
“Gapapa sih, besok kayaknya aku telat, mau ya?”
“Yaudah deh, mampir gak?” Tawar Shania.

Ini adalah kali pertama Shania menawari aku untuk mampir kerumahnya. Aku mengiyakan
ajakannya.
Aku duduk diteras , Shania keluar dari dalam rumah membawakan sirup berwarna merah dan
makanan kecil.

“Shan, enak yah sore-sore disini, hehe.” Ucapku.
“Enak pemandangannya, apa sama aku?” Tanya Shania.
“Hem.. Pemandangan indah, bisa tambah indah tergantung sama siapa nikmatinnya.”
“Emang kenapa sih sama sepedanya?” Tanya Shania.
“Gapapa, pokoknya besok Shania bawa yah ke sekolah.”

Setelah menghabiskan minum, aku pamit pada Shania untuk pulang. Kebetulan orang tua
Shania sedang tidak dirumah, jadi aku tidak berpamitan pada mereka.
Aku keluar pagar dan masih tersenyum pada Shania.

Saat Shania sedang melihat sepeda itu, ia menemukan sepucuk surat yang terselip di kursi
belakang, di surat itu tertulis, “baca dikelas yah, Shania.”

*

Shania mengayuh sepeda itu sendirian menuju sekolah, tanpa diriku. Sesampainya dikelas, ia
membuka surat itu. Dibacanya surat dengan tulisan tanganku.

Shania, maaf aku gak bisa ngomong langsung.
Sepedanya gimana? Enak kan?
Hem... Maaf, mulai semalam aku pindah ke Australia.
Aku minta maaf banget sama kamu, aku gak bisa ngomong langsung, aku benci perpisahan.
Aku harap kamu bisa ngerti, Shan.
Aku nyaman kalo ada di dekat kamu, berdua sama kamu.
Maafkanlah Shania, ampunilah diriku ini yang tidak menyatakan cinta, aku adalah lelaki yang jahat.
Aku gak kemana-mana kok, cuma beda jarak aja sama kamu, sepeda itu tetep ada buat kamu.
Kalo kamu baca surat ini, kamu pasti udah nyobain rasanya naik sepeda itu tanpa aku.
Aku harap kamu betah naik sepeda itu, sampai... two years later, pas aku balik, buat kamu

Shania meneteskan air mata saat membaca surat itu. Lalu ia menengok ke belakang, tempat
dimana aku biasa duduk di kelas. Ochi yang heran melihat Shania bersedih, langsung segera
menghampiri ke meja Shania.
Shania tidak berkata sedikitpun saat Ochi menghampirinya, Ochi mengambil surat di tangan
Shania, lalu membacanya. Ochi menengok ke meja belakang, lalu tersenyum.

Selasa, 24 Juli 2012


 
Kepedihan Hidup Seorang Remaja

Hidup normal seperti kebanyakan orang sangat aku dambakan. Tapi kini aku hanya bisa menahan dan mencoba bertahan hidup. Pada awalnya aku memang hidup normal. Tak pernah terduga sebelumnya bahwa akhirnya hidup ku akan seperti ini. Menghadapi penyakit yang semakin hari semakin menggerogoti tubuh ku. Entah sampai kapan aku akan bertahan menghadapi penyakit ini.
Aku Rio seorang siswi kelas 3 SMA yang sedang beranjak dewasa. Dahulu kehidupan ku berjalan normal seperti kebanyakan anak-anak remaja yang lainnya. Tapi 2 tahun belakangan ini aku terpaksa bolak-balik rumah sakit untuk mengobati penyakit ku ini. Tumor otak yang kata dokter kepada ku. Sungguh aku sangat terpukul dengan kenyataan itu. Hidup ku kini tak akan lama lagi. Aku masih banyak mempunyai mimpi yang ingin aku raih. Sampai saat ini aku hanya memendam sakit ini tanpa sepengetahuan keluargaku. Hanya sahabatku yaitu Fitri, Nova, dan Dira yang tau tentang penyakit ini. Aku tidak ingin merepotkan keluargaku. Mereka telah membanting tulang untuk menyekolahkanku hingga saat ini. Aku sangat bangga mempunyai kedua orang tua seperti mereka.
Aku pun juga bangga mempunyai sehabat yang setia. Meskipun kini aku menghadapi penyakit yang semakin hari semakin menggerogoti tubuh ku tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan kuat untuk menghadapi semuanya demi keluargaku dan sahabatku. Dira merupakan sosok sahabat yang sangat perhatian, dia selalu berusaha untuk membuat ku selalu tersenyum. Mungkin dia juga menyukaiku tapi aku tak tau.
“Rio, aku tau sekarang kamu sedang bejuang untuk melawan penyakit kamu. Kakak mohon sama kamu, kamu harus tetap kuat ya dek.”
“Aku akan berusaha untuk kuat melawan penyakit ini. Terus semangatin aku ya, Dir.”
Pasti , aku akan selalu ada disini untuk kamu.”
Makasih ya dir.”
Walaupun Dira sibuk dengan kegiatan sekolah, hampir setiap hari Dira menjenguk dan menanyakan keadaanku tiap hari. Sudah hampir dua tahun Dira menanggung biaya penyakitku ini. Entah apa jadinya jika aku tak mempunyai sahabat seperti Dira. Mungkin aku tak akan bisa sekuat ini. Terkadang aku berpikir kenapa Tuhan memberikan cobaan ini pada ku, tapi Dira selalu mengingatkan ku bahwa Tuhan tak mungkin memberikan cobaan diluar batas kemampuan para umat-Nya. Dira juga selalu bilang bahwa aku pasti bisa melewati semua ini, tapi aku sendiri tidak yakin akan bisa melewatinya.
Dukungan dari sahabat-sahabatku Nova dan Fitri tak pernah putus, meskipun kini aku menjadi teman yang penyakitan tapi mereka tidak menjauhi ku. Makin hari aku makin berjuang melawan penyakit yang cukup membuat aku merasa lelah. Aku merasa capek dengan semua ini. Rasa putus asa muncul dalam benakku ingin rasa aku mengakhiri semua ini, aku lelah sekali dengan penyakit ini. Terkadang aku merasa percuma juga menjalani pengobatan karena penyakit ku ini ga akan sembuh. Tapi sahabatku tak pernah berhenti memberikan semangat padaku. Mereka berharap bahwa aku akan bisa sembuh kembali. Bukan mereka saja yang berharap aku bisa sembuh kembali, tapi aku sendiri pun berharap Tuhan akan memberikan keajaiban pada ku sehingga aku bisa sembuh seperti sedia kala.
Selama dua tahun aku menyimpan penyakit ini dari keluargaku. Papa, mama, dan Kakak tak pernah tau keadaanku. Sahabatku tak pernah menduga aku akan menderita penyakit yang parah. Mimisan, Nyeri di kepala, Rasa mual, dan Muntah ternyata semuanya gejala awal penyakit tumor otak. Selama itu juga kututupi penyakit ini dengan keceriaan dan keaktifanku. Ternyata dokter mengatakan bahwa umurku ta lama lagi. Tuhan, jika ini memang yang terbaik untukku, aku mohon jika telah tiba saatnya nanti aku ingin orang-orang yang aku sayang tidak merasa sedih dan kehilangan ketika aku tiada nanti. Aku ingin mereka tersenyum karena aku telah memberikan hari-hari terakhir ku dengan indah bersama mereka.
Tiap hari Selasa dan Kamis aku harus menjalani kemoterapi untuk mencegah perkembangan sel tumor yang akan semakin menjalar. Kemoterapi yang sangat menyiksa bagi ku, tapi aku harus tetap menjalininya. Aku berharap semoga dengan menjalani kemoterapi ini setidaknya bisa membuat aku merasa tak seperti orang sakit parah.
“Dir, aku udah capek dengan menjalani kemo ini.”
Sudahlah Rio kalau kamu tidak menjali kemo ini nanti kamu akan berbaring diranjang ini terus, kamu yang sabar ya.”
Tapi kamu gak ngerasain dir, rasanya sakit.”
Sabar ya… aku akan selalu menemani kamu disini.”
“Dir, aku pengen banget kayak anak cowok lain. Ketawa-ketawa bareng pacar, gandengan, seneng-seneng sama orang tuanya. Aku pengen kayak gitu dir.”
Makanya kamu harus menjalani kemo ini supaya kamu bisa cari cewek.”
Saat liburan ke bali penyakit ini kambuh karena terlalu capek bermain-main. Aku pingsan, dan aku tak tau betapa repotnya Dira membawaku ke rumah sakit. Aku bermalam selama empat hari dirumah sakit itu. Aku tidak tau berapa uang yang dikeluarkan Dira untuk membayar semua ini. Beberapa hari dia menemaniku tidur di rumah sakit.
“Aku senang sekarang kamu sudah sadar. Kamu harus banyak istirahat supaya kamu cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali.”
“Aku pengen pulang, Dir”
Iya sabar ya, kamu harus disini dulu untuk melihat perkembangan kesehatan kamu.”
Tapi, Aku bosen di rumah sakit terus. Rumah sakit ini mahal Dir.”
Sabar ya. Sudah jangan pikirkan masalah biaya, aku sudah selesaikan semuanya yang penting kamu bisa sembuh sekarang.”
Aku menceritakan semuanya pada Fitri ketika aku disana.
“Rio, kamu harus sabar ya mudah-mudahan kamu cepat sembuh dan nanti kita bisa berkumpul lagi ya.”
Iya Fit, mudah-mudahan aku masih bisa ketemu kamu lagi.”
“Hush, Ya harus bisa dong Rio”
Belum tentu Fit, siapa tahu umur ku tidak sampai.”
Kamu itu ngomomg apa sih, aku yakin pasti kamu bisa sembuh.”
Ya mudah-mudahan”
Aku sangat bergantung dengan obat. Aku ingin seperti teman-temanku yang lain bisa bermain, berkumpul sama teman-teman, sedangkan aku hidupku hanya bergantung dengan obat. Sangat bosan, aku ingin menjali kehidupanku dengan normal walaupun keadaanku tak seperti orang lain. Setelah empat hari aku berada di rumah sakit akhirnya aku di perbolehkan pulang karena kondisi kesehatan ku semakin membaik. Aku senang sekali, akhirnya aku bisa balik ke Surabaya. Aku ingin bermain Sepak Bola lagi dengan teman-teman. Mudah-mudahan kondisiku kuat.
Suatu hari ketika aku sedang jalan-jalan dengan Nova gebetanku, penyakit ini lagi-lagi kambuh. Tak separah waktu di Bali. Tapi ini sudah cukup membuatku menahannya. Dia terlihat khawatir dengan keadaanku
“Kamu baik-baik aja kan, Rio? .”
“Iya, aku baik-baik aja kok.”
“Beneran? Jangan bohong, aku khawatir ini” Dia terlihat cemas melihat keadaanku.
“Kita pulang aja yuk? Obatmu mana?”
“Nggak mau, aku bosan dirumah. Obatnya aku tinggal, gak mau tergantung sama obat.”
“Keadaanmu lo kayak gitu.”
“Aku baik-baik aja kok. Kamu tenang ya
Akhirnya Aku dan Nova pulang. Dia terlihat cemas. Sepanjang jalan dia selalu menyakan keadaanku. Sesampainya dirumah aku lemah tak berdaya. Hampir pingsan, tapi aku berusaha menahannya. Keesokan harinya ketika aku bermain ke rumah Dira, tiba-tiba aku merasa sesak nafas dan pingsan. Diralangsung membawa ku ke rumah sakit. Mungkin inilah saatnya aku harus meninggalkan dunia ini. Aku tidak mau merepotkan sahabatku lagi, aku tidak mau melihat mereka sedih lagi. Menunggu kabar dari dokter membuat mereka resah, Dira dari tadi tidak berhenti menangis.
Maaf anda pacarnya Rio?”
Bukan saya temannya dok. Bagaimana keadaan Rio dok?
Kami telah berusaha untuk menyelamatkan Rio tapi Tuhan berkehendak lain. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk Dia.”
Apa dok ? ga mungkin Rio tidak bisa diselamatkan.”
“Kamu harus sabar ya kami turut berduka. Tuhan lebih sayang sama dia, makanya Tuhan mengambilnya.
Dan akhirnya perjalan seorang remaja yang bernama Rio berakhir. Semuanya telah terungkap. Orang tuanya sangat terpukul akan penyakit yang diderita anak bungsunya itu. Rio telah berada disisinya dengan tenang.

Sabtu, 18 Februari 2012

Solehah

Wahai Tuhanku, datangkanlah wanita yang mempunyai

RUPA - Yang senantiasa BERWUDHU' dan berpaling dari KEMAKSIATAN,
MATA - Yang senantiasa MENUNDUKKAN PANDANGAN dan hanya MELIHAT KEAGUNGAN Ciptaan-Mu,
MULUT - Yang senantiasa DIAM, TERSENYUM, dan bicaramu Hanya tentang yang MAKRUF,
TELINGA - Yang senantiasa mendengar KEBAIKAN dan TULI bila mendengar KEBURUKKAN seseorang,
TANGAN - Yang senantiasa MENADAH untuk mendoakan  kebahagiaan insan-insan Tercinta,
KAKI - Yang senantiasa Berjalan ke MAJELIS-MAJELIS ILMU yaitu Arah kepada kebaikan mencari 
KERIDHAAN ALLAH
BADAN - Yang senantiasa MENUTUP SEGALANYA dan hanya kepada-Nya kau meminta pertolongan,
HATI - Yang senantiasa menjadi LUHUR PRIBADI dan IKHLAS mencari Cinta di jalan-Nya,

Datangkanlah wanita seperti ini Ya Allah. Biarpun Sederhana tidak Kaya atau Miskin, tidak Cantik atau Jelek. Namun wanita itu akan menjadi HARTA paling BERHARGA yaitu Ilmu yang cukup untuk mencantikkan Imanku dan keluarga yang akan aku bina Kelak.
INSYA ALLAH

Selasa, 24 Januari 2012

AMANAH TERINDAH

 
Aku ingin menjadi amanah terindah
Yang hadir tuk buktikan Allah SWT tak salah memilihku
Tuk jadi pejuang al haq

Untuk orang-orang yang mengenalku
Untuk ayah dan ibuku
Aku ingin menjadi amanah terindah yang pernah mereka miliki dalam Kehidupan yang luar biasa ini

Untuk sahabat-sahabatku
Aku ingin jadi amanah terindah
Dengan menjadi sahabat terbaik yang pernah dimiliki
Sesakit apapun yang kudapat
Aku kan terus bertahan
Karena melihatmu bahagia cukup bagiku

Untuk semua
Aku hanya punya satu cita sederhana
Tuk jadi amanah terindah
Tuk jadi anugerah teridah
Yang pernah hadir bagimu
Yang tak mengharap balasan darimu
Yang hanya mengkhawatirkan sedikit amalnya tak diterima Rabbnya

Jumat, 13 Januari 2012

Masih Berharap

aku tahu dalam setiap lamunanku
kita terpisah oleh jarak ruang dan waktu
merambat dalam setiap pikiran
memecahkan semua kegundahan di jiwa
seperti air mengalir tanpa arah

aku tahu dalam setiap tatapanku
kita terhalang oleh ruang jarak dan waktu
hanya sebuah kepastian dan kepercayaan
hanya sebuah kerinduan dan keinginan
kesetian yang selalu aku tancapkan
kini menjadi sebuah keyakinan

kita terhalang oleh jarak sayang
tapi itu tidak membuat kita luluh
kita terhalang oleh ruang sayang
tapi itu hanya sementara dan sekejap
kita terhalang oleh sebuah waktu
tapi kita kan selalu menunggu sampai menyatu

aku dan kamu dalam jarak yang tak menentu
tapi cinta ini akan selalu untukmu
dan kan selalu untukmu
walau jarak dan waktu menghalang
aku masih berharap sampai aku menemukan seseorang yang Sepertimu . . .

Senin, 09 Januari 2012

Terlelap

Hingga kau tak akan sadar aku menunggumu disini
Hingga aku terlelap oleh sukma
Hingga kuterlelap oleh kepercayaan
Aku tak mengerti jalan hidup apa yang kutempuh
Menunggu sesuatu yang tak pernah mengharapkanku
Layaknya menunggu bulan menari pada siang hari
Aku tak mengerti ada apa dengan pikiranku
Layaknya seekor rusa yang mengharapkan singa
Tak pernah kupikirkan akhir dari rasa ini
Tak pernah kuresapi akibat raa ini
Hingga kututup pintu hatiku buat kaum hawa selainmu
Kuterus berharap, walau kau takkan pernah menolehkan hatimu padaku
Dan sampai saat ini aku MASIH BERHARAP ...