Selasa, 24 Juli 2012


 
Kepedihan Hidup Seorang Remaja

Hidup normal seperti kebanyakan orang sangat aku dambakan. Tapi kini aku hanya bisa menahan dan mencoba bertahan hidup. Pada awalnya aku memang hidup normal. Tak pernah terduga sebelumnya bahwa akhirnya hidup ku akan seperti ini. Menghadapi penyakit yang semakin hari semakin menggerogoti tubuh ku. Entah sampai kapan aku akan bertahan menghadapi penyakit ini.
Aku Rio seorang siswi kelas 3 SMA yang sedang beranjak dewasa. Dahulu kehidupan ku berjalan normal seperti kebanyakan anak-anak remaja yang lainnya. Tapi 2 tahun belakangan ini aku terpaksa bolak-balik rumah sakit untuk mengobati penyakit ku ini. Tumor otak yang kata dokter kepada ku. Sungguh aku sangat terpukul dengan kenyataan itu. Hidup ku kini tak akan lama lagi. Aku masih banyak mempunyai mimpi yang ingin aku raih. Sampai saat ini aku hanya memendam sakit ini tanpa sepengetahuan keluargaku. Hanya sahabatku yaitu Fitri, Nova, dan Dira yang tau tentang penyakit ini. Aku tidak ingin merepotkan keluargaku. Mereka telah membanting tulang untuk menyekolahkanku hingga saat ini. Aku sangat bangga mempunyai kedua orang tua seperti mereka.
Aku pun juga bangga mempunyai sehabat yang setia. Meskipun kini aku menghadapi penyakit yang semakin hari semakin menggerogoti tubuh ku tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan kuat untuk menghadapi semuanya demi keluargaku dan sahabatku. Dira merupakan sosok sahabat yang sangat perhatian, dia selalu berusaha untuk membuat ku selalu tersenyum. Mungkin dia juga menyukaiku tapi aku tak tau.
“Rio, aku tau sekarang kamu sedang bejuang untuk melawan penyakit kamu. Kakak mohon sama kamu, kamu harus tetap kuat ya dek.”
“Aku akan berusaha untuk kuat melawan penyakit ini. Terus semangatin aku ya, Dir.”
Pasti , aku akan selalu ada disini untuk kamu.”
Makasih ya dir.”
Walaupun Dira sibuk dengan kegiatan sekolah, hampir setiap hari Dira menjenguk dan menanyakan keadaanku tiap hari. Sudah hampir dua tahun Dira menanggung biaya penyakitku ini. Entah apa jadinya jika aku tak mempunyai sahabat seperti Dira. Mungkin aku tak akan bisa sekuat ini. Terkadang aku berpikir kenapa Tuhan memberikan cobaan ini pada ku, tapi Dira selalu mengingatkan ku bahwa Tuhan tak mungkin memberikan cobaan diluar batas kemampuan para umat-Nya. Dira juga selalu bilang bahwa aku pasti bisa melewati semua ini, tapi aku sendiri tidak yakin akan bisa melewatinya.
Dukungan dari sahabat-sahabatku Nova dan Fitri tak pernah putus, meskipun kini aku menjadi teman yang penyakitan tapi mereka tidak menjauhi ku. Makin hari aku makin berjuang melawan penyakit yang cukup membuat aku merasa lelah. Aku merasa capek dengan semua ini. Rasa putus asa muncul dalam benakku ingin rasa aku mengakhiri semua ini, aku lelah sekali dengan penyakit ini. Terkadang aku merasa percuma juga menjalani pengobatan karena penyakit ku ini ga akan sembuh. Tapi sahabatku tak pernah berhenti memberikan semangat padaku. Mereka berharap bahwa aku akan bisa sembuh kembali. Bukan mereka saja yang berharap aku bisa sembuh kembali, tapi aku sendiri pun berharap Tuhan akan memberikan keajaiban pada ku sehingga aku bisa sembuh seperti sedia kala.
Selama dua tahun aku menyimpan penyakit ini dari keluargaku. Papa, mama, dan Kakak tak pernah tau keadaanku. Sahabatku tak pernah menduga aku akan menderita penyakit yang parah. Mimisan, Nyeri di kepala, Rasa mual, dan Muntah ternyata semuanya gejala awal penyakit tumor otak. Selama itu juga kututupi penyakit ini dengan keceriaan dan keaktifanku. Ternyata dokter mengatakan bahwa umurku ta lama lagi. Tuhan, jika ini memang yang terbaik untukku, aku mohon jika telah tiba saatnya nanti aku ingin orang-orang yang aku sayang tidak merasa sedih dan kehilangan ketika aku tiada nanti. Aku ingin mereka tersenyum karena aku telah memberikan hari-hari terakhir ku dengan indah bersama mereka.
Tiap hari Selasa dan Kamis aku harus menjalani kemoterapi untuk mencegah perkembangan sel tumor yang akan semakin menjalar. Kemoterapi yang sangat menyiksa bagi ku, tapi aku harus tetap menjalininya. Aku berharap semoga dengan menjalani kemoterapi ini setidaknya bisa membuat aku merasa tak seperti orang sakit parah.
“Dir, aku udah capek dengan menjalani kemo ini.”
Sudahlah Rio kalau kamu tidak menjali kemo ini nanti kamu akan berbaring diranjang ini terus, kamu yang sabar ya.”
Tapi kamu gak ngerasain dir, rasanya sakit.”
Sabar ya… aku akan selalu menemani kamu disini.”
“Dir, aku pengen banget kayak anak cowok lain. Ketawa-ketawa bareng pacar, gandengan, seneng-seneng sama orang tuanya. Aku pengen kayak gitu dir.”
Makanya kamu harus menjalani kemo ini supaya kamu bisa cari cewek.”
Saat liburan ke bali penyakit ini kambuh karena terlalu capek bermain-main. Aku pingsan, dan aku tak tau betapa repotnya Dira membawaku ke rumah sakit. Aku bermalam selama empat hari dirumah sakit itu. Aku tidak tau berapa uang yang dikeluarkan Dira untuk membayar semua ini. Beberapa hari dia menemaniku tidur di rumah sakit.
“Aku senang sekarang kamu sudah sadar. Kamu harus banyak istirahat supaya kamu cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali.”
“Aku pengen pulang, Dir”
Iya sabar ya, kamu harus disini dulu untuk melihat perkembangan kesehatan kamu.”
Tapi, Aku bosen di rumah sakit terus. Rumah sakit ini mahal Dir.”
Sabar ya. Sudah jangan pikirkan masalah biaya, aku sudah selesaikan semuanya yang penting kamu bisa sembuh sekarang.”
Aku menceritakan semuanya pada Fitri ketika aku disana.
“Rio, kamu harus sabar ya mudah-mudahan kamu cepat sembuh dan nanti kita bisa berkumpul lagi ya.”
Iya Fit, mudah-mudahan aku masih bisa ketemu kamu lagi.”
“Hush, Ya harus bisa dong Rio”
Belum tentu Fit, siapa tahu umur ku tidak sampai.”
Kamu itu ngomomg apa sih, aku yakin pasti kamu bisa sembuh.”
Ya mudah-mudahan”
Aku sangat bergantung dengan obat. Aku ingin seperti teman-temanku yang lain bisa bermain, berkumpul sama teman-teman, sedangkan aku hidupku hanya bergantung dengan obat. Sangat bosan, aku ingin menjali kehidupanku dengan normal walaupun keadaanku tak seperti orang lain. Setelah empat hari aku berada di rumah sakit akhirnya aku di perbolehkan pulang karena kondisi kesehatan ku semakin membaik. Aku senang sekali, akhirnya aku bisa balik ke Surabaya. Aku ingin bermain Sepak Bola lagi dengan teman-teman. Mudah-mudahan kondisiku kuat.
Suatu hari ketika aku sedang jalan-jalan dengan Nova gebetanku, penyakit ini lagi-lagi kambuh. Tak separah waktu di Bali. Tapi ini sudah cukup membuatku menahannya. Dia terlihat khawatir dengan keadaanku
“Kamu baik-baik aja kan, Rio? .”
“Iya, aku baik-baik aja kok.”
“Beneran? Jangan bohong, aku khawatir ini” Dia terlihat cemas melihat keadaanku.
“Kita pulang aja yuk? Obatmu mana?”
“Nggak mau, aku bosan dirumah. Obatnya aku tinggal, gak mau tergantung sama obat.”
“Keadaanmu lo kayak gitu.”
“Aku baik-baik aja kok. Kamu tenang ya
Akhirnya Aku dan Nova pulang. Dia terlihat cemas. Sepanjang jalan dia selalu menyakan keadaanku. Sesampainya dirumah aku lemah tak berdaya. Hampir pingsan, tapi aku berusaha menahannya. Keesokan harinya ketika aku bermain ke rumah Dira, tiba-tiba aku merasa sesak nafas dan pingsan. Diralangsung membawa ku ke rumah sakit. Mungkin inilah saatnya aku harus meninggalkan dunia ini. Aku tidak mau merepotkan sahabatku lagi, aku tidak mau melihat mereka sedih lagi. Menunggu kabar dari dokter membuat mereka resah, Dira dari tadi tidak berhenti menangis.
Maaf anda pacarnya Rio?”
Bukan saya temannya dok. Bagaimana keadaan Rio dok?
Kami telah berusaha untuk menyelamatkan Rio tapi Tuhan berkehendak lain. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk Dia.”
Apa dok ? ga mungkin Rio tidak bisa diselamatkan.”
“Kamu harus sabar ya kami turut berduka. Tuhan lebih sayang sama dia, makanya Tuhan mengambilnya.
Dan akhirnya perjalan seorang remaja yang bernama Rio berakhir. Semuanya telah terungkap. Orang tuanya sangat terpukul akan penyakit yang diderita anak bungsunya itu. Rio telah berada disisinya dengan tenang.