Kepedihan
Hidup Seorang Remaja
Hidup normal seperti
kebanyakan orang sangat aku dambakan. Tapi kini aku hanya bisa
menahan dan mencoba bertahan hidup. Pada awalnya aku memang hidup
normal. Tak pernah terduga sebelumnya bahwa akhirnya hidup ku akan
seperti ini. Menghadapi penyakit yang semakin hari semakin
menggerogoti tubuh ku. Entah sampai kapan aku akan bertahan
menghadapi penyakit ini.
Aku Rio seorang siswi kelas 3
SMA yang sedang beranjak dewasa. Dahulu
kehidupan ku berjalan normal seperti kebanyakan anak-anak remaja yang
lainnya. Tapi 2 tahun belakangan ini aku terpaksa bolak-balik rumah
sakit untuk mengobati penyakit ku ini. Tumor otak yang kata dokter
kepada ku. Sungguh aku sangat terpukul dengan kenyataan itu. Hidup ku
kini tak akan lama lagi. Aku masih banyak mempunyai mimpi yang ingin
aku raih. Sampai saat ini aku hanya memendam sakit ini tanpa
sepengetahuan keluargaku. Hanya sahabatku yaitu Fitri, Nova, dan Dira
yang tau tentang penyakit ini. Aku tidak ingin merepotkan keluargaku.
Mereka telah membanting tulang untuk menyekolahkanku hingga saat ini.
Aku sangat bangga mempunyai kedua orang tua seperti mereka.
Aku pun juga bangga mempunyai sehabat
yang setia. Meskipun kini aku menghadapi penyakit yang semakin hari
semakin menggerogoti tubuh ku tapi aku berusaha untuk tetap tegar dan
kuat untuk menghadapi semuanya demi keluargaku dan sahabatku. Dira
merupakan sosok sahabat yang sangat perhatian, dia selalu berusaha
untuk membuat ku selalu tersenyum. Mungkin dia juga menyukaiku tapi
aku tak tau.
“Rio,
aku tau sekarang kamu sedang bejuang untuk melawan penyakit kamu.
Kakak mohon sama kamu, kamu harus tetap kuat ya dek.”
“Aku akan
berusaha untuk kuat melawan penyakit ini. Terus semangatin aku ya,
Dir.”
“Pasti
, aku akan selalu ada disini untuk kamu.”
“Makasih
ya dir.”
Walaupun Dira sibuk dengan kegiatan
sekolah, hampir setiap hari Dira menjenguk dan menanyakan keadaanku
tiap hari. Sudah hampir dua tahun Dira menanggung biaya penyakitku
ini. Entah apa jadinya jika aku tak mempunyai sahabat seperti Dira.
Mungkin aku tak akan bisa sekuat ini. Terkadang aku berpikir kenapa
Tuhan memberikan cobaan ini pada ku, tapi Dira selalu mengingatkan ku
bahwa Tuhan tak mungkin memberikan cobaan diluar batas kemampuan para
umat-Nya. Dira juga selalu bilang bahwa aku pasti bisa melewati semua
ini, tapi aku sendiri tidak yakin akan bisa melewatinya.
Dukungan dari sahabat-sahabatku Nova
dan Fitri tak pernah putus, meskipun kini aku menjadi teman yang
penyakitan tapi mereka tidak menjauhi ku. Makin hari aku makin
berjuang melawan penyakit yang cukup membuat aku merasa lelah. Aku
merasa capek dengan semua ini. Rasa putus asa muncul dalam benakku
ingin rasa aku mengakhiri semua ini, aku lelah sekali dengan penyakit
ini. Terkadang aku merasa percuma juga menjalani pengobatan karena
penyakit ku ini ga akan sembuh. Tapi sahabatku tak pernah berhenti
memberikan semangat padaku. Mereka berharap bahwa aku akan bisa
sembuh kembali. Bukan mereka saja yang berharap aku bisa sembuh
kembali, tapi aku sendiri pun berharap Tuhan akan memberikan
keajaiban pada ku sehingga aku bisa sembuh seperti sedia kala.
Selama dua tahun aku menyimpan
penyakit ini dari keluargaku. Papa, mama, dan Kakak tak pernah tau
keadaanku. Sahabatku tak pernah menduga aku akan menderita penyakit
yang parah. Mimisan, Nyeri di kepala, Rasa mual, dan Muntah ternyata
semuanya gejala awal penyakit tumor otak. Selama itu juga kututupi
penyakit ini dengan keceriaan dan keaktifanku. Ternyata dokter
mengatakan bahwa umurku ta lama lagi. Tuhan, jika ini memang yang
terbaik untukku, aku mohon jika telah tiba saatnya nanti aku ingin
orang-orang yang aku sayang tidak merasa sedih dan kehilangan ketika
aku tiada nanti. Aku ingin mereka tersenyum karena aku telah
memberikan hari-hari terakhir ku dengan indah bersama mereka.
Tiap hari Selasa dan Kamis aku harus
menjalani kemoterapi untuk mencegah perkembangan sel tumor yang akan
semakin menjalar. Kemoterapi yang sangat menyiksa bagi ku, tapi aku
harus tetap menjalininya. Aku berharap semoga dengan menjalani
kemoterapi ini setidaknya bisa membuat aku merasa tak seperti orang
sakit parah.
“Dir, aku udah capek dengan
menjalani kemo ini.”
“Sudahlah
Rio kalau kamu tidak menjali kemo ini nanti kamu akan berbaring
diranjang ini terus, kamu yang sabar ya.”
“Tapi
kamu gak ngerasain dir, rasanya sakit.”
“Sabar
ya… aku akan selalu menemani kamu disini.”
“Dir, aku pengen
banget kayak anak cowok lain. Ketawa-ketawa bareng pacar, gandengan,
seneng-seneng sama orang tuanya. Aku pengen kayak gitu dir.”
“Makanya
kamu harus menjalani kemo ini supaya kamu bisa cari cewek.”
Saat liburan ke bali penyakit ini
kambuh karena terlalu capek bermain-main. Aku pingsan, dan aku tak
tau betapa repotnya Dira membawaku ke rumah sakit. Aku bermalam
selama empat hari dirumah sakit itu. Aku tidak tau berapa uang yang
dikeluarkan Dira untuk membayar semua ini. Beberapa hari dia
menemaniku tidur di rumah sakit.
“Aku senang
sekarang kamu sudah sadar. Kamu harus banyak istirahat supaya kamu
cepat sembuh dan bisa beraktivitas kembali.”
“Aku pengen
pulang, Dir”
“Iya
sabar ya, kamu harus disini dulu untuk melihat perkembangan kesehatan
kamu.”
“Tapi,
Aku bosen di rumah sakit terus. Rumah sakit ini mahal Dir.”
“Sabar
ya. Sudah jangan pikirkan masalah biaya, aku sudah selesaikan
semuanya yang penting kamu bisa sembuh sekarang.”
Aku
menceritakan semuanya pada Fitri ketika aku disana.
“Rio,
kamu harus sabar ya mudah-mudahan kamu cepat sembuh dan nanti kita
bisa berkumpul lagi ya.”
“Iya
Fit, mudah-mudahan aku masih bisa ketemu kamu lagi.”
“Hush, Ya
harus bisa dong Rio”
“Belum
tentu Fit, siapa tahu umur ku tidak sampai.”
“Kamu
itu ngomomg apa sih, aku yakin pasti kamu bisa sembuh.”
“Ya
mudah-mudahan”
Aku sangat bergantung dengan obat. Aku
ingin seperti teman-temanku yang lain bisa bermain, berkumpul sama
teman-teman, sedangkan aku hidupku hanya bergantung dengan obat.
Sangat bosan, aku ingin menjali kehidupanku dengan normal walaupun
keadaanku tak seperti orang lain. Setelah empat hari aku berada di
rumah sakit akhirnya aku di perbolehkan pulang karena kondisi
kesehatan ku semakin membaik. Aku senang sekali, akhirnya aku bisa
balik ke Surabaya. Aku ingin bermain Sepak Bola lagi dengan
teman-teman. Mudah-mudahan kondisiku kuat.
Suatu hari ketika aku sedang
jalan-jalan dengan Nova gebetanku, penyakit ini lagi-lagi kambuh. Tak
separah waktu di Bali. Tapi ini sudah cukup membuatku menahannya. Dia
terlihat khawatir dengan keadaanku
“Kamu baik-baik aja kan, Rio? .”
“Iya, aku baik-baik aja kok.”
“Beneran? Jangan bohong, aku khawatir ini”
Dia terlihat cemas melihat keadaanku.
“Kita pulang aja yuk?
Obatmu mana?”
“Nggak mau, aku bosan
dirumah. Obatnya aku tinggal, gak mau tergantung sama obat.”
“Keadaanmu lo kayak
gitu.”
“Aku baik-baik aja kok.
Kamu tenang ya”
Akhirnya Aku dan Nova pulang.
Dia terlihat cemas. Sepanjang jalan dia selalu menyakan keadaanku.
Sesampainya dirumah aku lemah tak berdaya. Hampir pingsan, tapi aku
berusaha menahannya. Keesokan harinya ketika aku bermain ke rumah
Dira, tiba-tiba aku merasa sesak nafas dan pingsan. Diralangsung
membawa ku ke rumah sakit. Mungkin inilah saatnya aku harus
meninggalkan dunia ini. Aku tidak mau merepotkan sahabatku lagi, aku
tidak mau melihat mereka sedih lagi. Menunggu kabar dari dokter
membuat mereka resah, Dira dari tadi tidak berhenti menangis.
“Maaf
anda pacarnya Rio?”
“Bukan
saya temannya dok. Bagaimana keadaan Rio dok?
“Kami
telah berusaha untuk menyelamatkan Rio tapi Tuhan berkehendak lain.
Mungkin ini jalan yang terbaik untuk Dia.”
“Apa
dok ? ga mungkin Rio tidak bisa diselamatkan.”
“Kamu harus sabar ya
kami turut berduka. Tuhan lebih sayang sama dia, makanya Tuhan mengambilnya.
Dan akhirnya perjalan seorang
remaja yang bernama Rio berakhir. Semuanya telah terungkap. Orang
tuanya sangat terpukul akan penyakit yang diderita anak bungsunya
itu. Rio telah berada disisinya dengan tenang.